Projects


#92 Untitled project

Created by Lidya Riska - Updated - Priority: low

#335 Missing Maps: Desa Karangmojo - Kabupaten Boyolali

Epidemi dan pandemi berskala besar menimbulkan ancaman serius tidak hanya terhadap keamanan kesehatan global tetapi juga mengancam negara, masyarakat, dan individu dalam upaya untuk mencapai ketahanan. Epidemi dan pandemi mempengaruhi semua sektor, mempengaruhi layanan kesehatan rutin, ketahanan pangan dan ekonomi, perdagangan, pendidikan, ketertiban sipil, komunikasi, transportasi, dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Ancaman munculnya penyakit menular, termasuk yang berasal dari zoonosis, dan meningkatnya prevalensi penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan melalui upaya antimikroba dan vaksinasi, telah menyebabkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat global. Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Pemetaan ini merupakan bagian penting dari kegiatan Community Epidemic and Pandemic Preparedness Programme (CP3) yang ada di desa pilot program Palang Merah Indonesia (PMI). Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) dan Palang Merah Amerika (AMRC) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program baru yang memiliki fokus pada advokasi data yang bersifat terbuka (open data), pemetaan berbasis masyarakat dan integrasi data ke dalam pembuatan keputusan berdasarkan data. Masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai lingkungan lokal dan adat istiadat setempat, memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Proyek Missing Maps bertujuan untuk memetakan komunitas/masyarakat yang rentan di dunia (yang disebabkan oleh krisis kemanusiaan: epidemi penyakit, konflik, bencana alam, kemiskinan dan krisis lingkungan). Missing Map dikembangkan pada proyek kesiapsiagaan bencana HOT untuk memfasilitasi pemetaan preemptive negara-negara prioritas agar meningkatkan response bencana yang lebih baik, kegiatan medis dan alokasi sumber daya sebelum krisis terjadi.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#336 Missing Maps: Desa Sobokerto - Kabupaten Boyolali

Epidemi dan pandemi berskala besar menimbulkan ancaman serius tidak hanya terhadap keamanan kesehatan global tetapi juga mengancam negara, masyarakat, dan individu dalam upaya untuk mencapai ketahanan. Epidemi dan pandemi mempengaruhi semua sektor, mempengaruhi layanan kesehatan rutin, ketahanan pangan dan ekonomi, perdagangan, pendidikan, ketertiban sipil, komunikasi, transportasi, dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Ancaman munculnya penyakit menular, termasuk yang berasal dari zoonosis, dan meningkatnya prevalensi penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan melalui upaya antimikroba dan vaksinasi, telah menyebabkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat global. Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Pemetaan ini merupakan bagian penting dari kegiatan Community Epidemic and Pandemic Preparedness Programme (CP3) yang ada di desa pilot program Palang Merah Indonesia (PMI). Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) dan Palang Merah Amerika (AMRC) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program baru yang memiliki fokus pada advokasi data yang bersifat terbuka (open data), pemetaan berbasis masyarakat dan integrasi data ke dalam pembuatan keputusan berdasarkan data. Masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai lingkungan lokal dan adat istiadat setempat, memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Proyek Missing Maps bertujuan untuk memetakan komunitas/masyarakat yang rentan di dunia (yang disebabkan oleh krisis kemanusiaan: epidemi penyakit, konflik, bencana alam, kemiskinan dan krisis lingkungan). Missing Map dikembangkan pada proyek kesiapsiagaan bencana HOT untuk memfasilitasi pemetaan preemptive negara-negara prioritas agar meningkatkan response bencana yang lebih baik, kegiatan medis dan alokasi sumber daya sebelum krisis terjadi.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#395 Pemetaan Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Salomekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

DESKRIPSI KEGIATAN

Bendungan disamping memiliki manfaat yang besar, juga menyimpan potensi bahaya yang besar pula, bendungan yang runtuh akan menimbulkan banjir bandang yang dahsyat sampai jauh ke daerah hilir yang akan mengakibatkan timbulnya banyak korban jiwa dan harta benda serta kerusakan lingkungan yang parah. Untuk itu perlu dilakuakan Rencana Tanggap Darurat untuk mencegah musibah tersebut Bendungan Salomekko merupakan bendungan Urugan Tanah dengan inti kedap yang merupakan bendung dalam wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, yang terletak di Desa Ulu Balang, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Bendungan Salomekko merupakan salah satu bendungan yang masuk ke dalam bendungan yang perlu dibuat dokumen RTD atau Rencana Tanggap Darurat oleh Kementerian PUPR Direktorat Sumber Daya Air. Mengingat pentingnya data-data pendukung terutama data keterpaparan untuk dapat melaksanakan analisis InaSAFE, diperlukan ketersediaan data yang lengkap di sekitar bendungan tersebut. Sehingga perlu adanya pemetaan untuk melengkapi data-data tersebut.

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: low

#394 Pemetaan Respon Bencana - Gempa Bumi Halmahera Selatan, 7.2 SR (14 Juli 2019)

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadi 52 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) di kawasan Halmahera Selatan. Sebanyak 28 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

"Berdasarkan hasil pemantauan sampai 15 Juli 2019 pukul 01.00 WIB, aktivitas gempa susulan itu terjadi dengan magnitudo terbesar 5.8 skala richter (SR) dan magnitudo terkecil 3,1 SR," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG

Rahmat Triyono dalam keterangan resmi yang diperoleh CNNIndonesia.com, Senin (15/7).

Sebelumnya, Kabupaten Halmahera Selatan diguncang gempa bumi tektonik berkekuatam 7,2 SR pada Minggu (14/7) pukul 16.10 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 0,56 LS dan 128,06 BT, tepatnya berada di kedalaman 10 km, berlokasi di darat pada jarak 63 km arah timur Kota Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Sorong-Bacan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar.

Guncangan dilaporkan terasa di daerah Obi V MMI, Labuha III MMI, Manado, Ambon II-III MMI, Ternate, Namlea, Gorontalo, Raja Ampat, Sorong, dan Bolaang Mongondow II MMI.

Dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut terjadi di Kecamatan Gane Barat Utara, Timur Selatan, Gane Timur Tengah, Gane Dalam, Gane Barat Selatan, Gane Timur, Halmahera Selatan.

Terkait korban jiwa, dilaporkan ada satu orang meninggal dunia di Kelurahan Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan. Gempa bumi juga merobohkan sedikitnya 160 bangunan rumah.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Masyarakat dapat memperoleh informasi melalui kanal resmi BMKG, seperti akun Instagram atau Twitter @infoBMKG), dan website (https://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id)

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190715022402-20-412051/sebanyak-52-gempa-susulan-terjadi-di-halmahera-1-orang-tewas

Created by harrymahar - Updated - Priority: urgent

#156 Untitled project

Created by TGinanjar - Updated - Priority: low

#261 Prioritas RPJMN Kota Malang - Jawa Timur

Created by yokrist - Updated - Priority: medium

#340 Missing Maps: Kelurahan Tanahsareal - Kota Bogor

Epidemi dan pandemi berskala besar menimbulkan ancaman serius tidak hanya terhadap keamanan kesehatan global tetapi juga mengancam negara, masyarakat, dan individu dalam upaya untuk mencapai ketahanan. Epidemi dan pandemi mempengaruhi semua sektor, mempengaruhi layanan kesehatan rutin, ketahanan pangan dan ekonomi, perdagangan, pendidikan, ketertiban sipil, komunikasi, transportasi, dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Ancaman munculnya penyakit menular, termasuk yang berasal dari zoonosis, dan meningkatnya prevalensi penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan melalui upaya antimikroba dan vaksinasi, telah menyebabkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat global. Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Pemetaan ini merupakan bagian penting dari kegiatan Community Epidemic and Pandemic Preparedness Programme (CP3) yang ada di desa pilot program Palang Merah Indonesia (PMI). Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) dan Palang Merah Amerika (AMRC) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program baru yang memiliki fokus pada advokasi data yang bersifat terbuka (open data), pemetaan berbasis masyarakat dan integrasi data ke dalam pembuatan keputusan berdasarkan data. Masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai lingkungan lokal dan adat istiadat setempat, memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Proyek Missing Maps bertujuan untuk memetakan komunitas/masyarakat yang rentan di dunia (yang disebabkan oleh krisis kemanusiaan: epidemi penyakit, konflik, bencana alam, kemiskinan dan krisis lingkungan). Missing Map dikembangkan pada proyek kesiapsiagaan bencana HOT untuk memfasilitasi pemetaan preemptive negara-negara prioritas agar meningkatkan response bencana yang lebih baik, kegiatan medis dan alokasi sumber daya sebelum krisis terjadi.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#275 Pemetaan infrastruktur Kota Palembang

Pemetaan infrastruktur Kota Palembang untuk BNPB

Created by Adityo - Updated - Priority: medium

#70 Untitled project

Created by Lidya Riska - Updated - Priority: low
< 1 .. 3 4 5 6 7 .. 28 >

About the Tasking Manager

OSM Tasking Manager is a mapping tool designed and built for the Humanitarian OSM Team collaborative mapping. The purpose of the tool is to divide up a mapping job into smaller tasks that can be completed rapidly. It shows which areas need to be mapped and which areas need the mapping validated.
This approach facilitates the distribution of tasks to the various mappers in a context of emergency. It also permits to control the progress and the homogeinity of the work done (ie. Elements to cover, specific tags to use, etc.).


Questions About Tasks, Mapping or HOT?

If you have any questions about a project, a task or mapping in general please ask on our mailing list: HOT E-Mail List

Or visit us in our IRC Chat Channel, just select #hot from the pop down channel list:
OSM HOT IRC Channel #hot

General inquries and comments are welcomed at: info@hotosm.org