Projects


#387 Pemetaan Wilayah Terdampak Gempa Lombok, Maret 2019

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,4 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Minggu (17/3/2019) siang mengakibatkan dua orang meninggal dan ratusan rumah rusak.

Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa yang berpusat di darat pada 20 kilometer (km) arah utara Kota Selong Kabupaten Lombok Timur itu menyebabkan sejumlah rumah roboh.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Minggu (17/3/2019), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut dampak gempa juga menyebabkan dua orang tewas.

"Berdasarkan pendataan yang dilakukan BPBD Lombok Timur, dampak gempa telah menyebabkan dua orang meninggal dunia, 44 orang luka-luka, 32 unit rumah roboh dan 499 unit rumah rusak sedang dan rusak ringan," kata Sutopo.

Dua orang meninggal dunia adalah wisatawan asal Malaysia yang tertimpa material longsoran akibat adanya gempa di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara di bawah kaki Gunung Rinjani.

"Satu korban meninggal sudah diidentifikasi atas nama Tommy (14 tahun) warga Malaysia, sedangkan yang satunya belum dapat diindentifikasi. Korban luka-luka sebanyak 44 orang dimana 36 orang warga Indonesia dan delapan orang WNA Malaysia," kata dia.

Sementara itu sebanyak 36 wisatawan (22 wisatawan dari Malaysia dan 14 wisatawan nusantara) telah berhasil dievakuasi dari kawasan Air Terjun Tiu Kelep di Lombok Utara.

Sedangkan sekitar 50 orang lainnya juga berhasil dievakuasi dari Pos 2 ke Pos 3 di Gunung Rinjani dalam kondisi aman. Mereka adalah tim survei jalur pendakian Gunung Rinjani yang berasal dari TNGR, BPBD NTB, Geopark, Porter, PVMBG.

Saat ini kata Sutopo, penanganan darurat masih dilakukan. BPBD NTB berkoordinasi dengam berbagai pihak seperti TNI, Polri, BMKG, Basarnas, SKPD, Tagana, relawan dan lainnya.

Tim Reaksi Cepat BPBD NTB kata dia juga melakukan kaji cepat dan pendataan dampak gempa. BPBD NTB telah mengirimkan bantuan berupa makanan siap saji, terpal, lauk pauk, matras, mie instan dan telor. Pendataan terus dilakukan.

Sutopo menjelaskan gempa terjadi pada kedalaman 19 km pada pukul 14.07 WIB. Kemudian gempa susulan terjadi pada pukul 14.09 WIB dengan kekuatan 5,1 SR pada kedalaman 10 km.

"BMKG mencatat gempa bumi ini termasuk dalam klasifikasi gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh penyesaran turun (normal fault)," katanya.

https://tirto.id/bnpb-gempa-lombok-timur-mengakibatkan-531-rumah-rusak-djHC

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: high

#393 Pemetaan Kabupaten Terdampak Banjir Sulawesi Tenggara

BNPB: 5.111 Korban Banjir Konawe Utara Masih Mengungsi Kompas.com - 10/06/2019

KENDARI, KOMPAS.com – Bupati Konawe Utara Ruksamin telah menetapkan status tanggap darurat banjir di wilayah itu selama 14 hari, terhitung 2 Juni 2019 hingga 16 Juni 2019. Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan antara lain pengoperasian pos komando penanganan darurat banjir yang berada di rumah jabatan bupati, evakuasi dan penyelamatan, penanganan warga terdampak, pendataan serta mengaktifkan jaringan komunikasi untuk penanganan darurat. Data BNPB hingga Senin (10/6/2019) menyebutkan, ada 38 desa, 3 kelurahan dan 6 kecamatan yang terendam banjir bandang.

Tak hanya itu, ada 185 rumah warga hanyut, 1.235 unit rumah terendam banjir dan 5.111 jiwa dari 1.420 kepala keluarga mengungsi akibat banjir di wilayah itu. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 hektare, lahan jagung 83,5 hektare dan lainnya 11 hektare, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 hektare.

Kepala pusat data, informasi dan humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kendala yang masih dihadapi petugas di lapangan adalah arus aliran air masih deras sehingga penggunaan sampan mesin tidak dapat menjangkau wilayah terisolir. Selain itu, minimnya peralatan untuk membantu evakuasi dan penyelamatan di lapangan. Saat ini, kata Sutopo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara mendata kerusakan fasilitas umum berupa 3 jembatan putus, 5 masjid dan dua puskesmas serta 3 puskesmas pembantu. Sedangkan fasilitas pendidikan yang terendam banjir ada 5 unit SD dan 3 bangunan SMP dan 3 pasar juga mengalami kondisi yang sama. "BPBD melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar-provinsi di Asera," kata Sutopo dalam rilis persnya.

Sutopo melanjutkan, banjir juga melanda Kabupaten Konawe. Banjir ini juga dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengakibatkan 36 jiwa mengungsi dan 240 terdampak. Bupati Konawe telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 5 Juni hingga 11 Juni 2019. BPBD Kabupaten Konawe telah melakukan upaya penanganan darurat dan pendataan lapangan. BPBD melaporkan 1 orang meninggal, yaitu bayi berusia 4 hari, pada kejadian ini. "BNPB masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut penyebab kematian bayi tersebut," terang Sutopo.

Ia menambahkan, untuk mempercepat pengiriman bantuan logistik, pihaknya telah mengirimkan bantuan logistik menggunakan pesawat cargo. BNPB mengirim bantuan langsung ke Kendari seberat 1.086 kg senilai Rp 218 juta. "BNPB juga mengaktivasi klaster logistik sehingga mengirimkan bantuan dari Kemensos dan PMI. Bantuan berupa family fit 200 kg, hygiene kit 200 kg, baby kit 200 kg, selimut 400 lembar, jas hujan 100 lembar, rompi 100 unit dan matras 100 lembar," ujar dia. Untuk distributsi logistik ke titik pengungsi dilakukan dengan bantuan satu helikopter milik BNPB.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: 5.111 Korban Banjir Konawe Utara Masih Mengungsi", https://regional.kompas.com/read/2019/06/10/20581171/bnpb-5111-korban-banjir-konawe-utara-masih-mengungsi. Penulis : Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati Editor : Robertus Belarminus

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: urgent

#335 Missing Maps: Desa Karangmojo - Kabupaten Boyolali

Epidemi dan pandemi berskala besar menimbulkan ancaman serius tidak hanya terhadap keamanan kesehatan global tetapi juga mengancam negara, masyarakat, dan individu dalam upaya untuk mencapai ketahanan. Epidemi dan pandemi mempengaruhi semua sektor, mempengaruhi layanan kesehatan rutin, ketahanan pangan dan ekonomi, perdagangan, pendidikan, ketertiban sipil, komunikasi, transportasi, dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Ancaman munculnya penyakit menular, termasuk yang berasal dari zoonosis, dan meningkatnya prevalensi penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan melalui upaya antimikroba dan vaksinasi, telah menyebabkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat global. Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Pemetaan ini merupakan bagian penting dari kegiatan Community Epidemic and Pandemic Preparedness Programme (CP3) yang ada di desa pilot program Palang Merah Indonesia (PMI). Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) dan Palang Merah Amerika (AMRC) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program baru yang memiliki fokus pada advokasi data yang bersifat terbuka (open data), pemetaan berbasis masyarakat dan integrasi data ke dalam pembuatan keputusan berdasarkan data. Masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai lingkungan lokal dan adat istiadat setempat, memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Proyek Missing Maps bertujuan untuk memetakan komunitas/masyarakat yang rentan di dunia (yang disebabkan oleh krisis kemanusiaan: epidemi penyakit, konflik, bencana alam, kemiskinan dan krisis lingkungan). Missing Map dikembangkan pada proyek kesiapsiagaan bencana HOT untuk memfasilitasi pemetaan preemptive negara-negara prioritas agar meningkatkan response bencana yang lebih baik, kegiatan medis dan alokasi sumber daya sebelum krisis terjadi.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#394 Pemetaan Respon Bencana - Gempa Bumi Halmahera Selatan, 7.2 SR (14 Juli 2019)

Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadi 52 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) di kawasan Halmahera Selatan. Sebanyak 28 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

"Berdasarkan hasil pemantauan sampai 15 Juli 2019 pukul 01.00 WIB, aktivitas gempa susulan itu terjadi dengan magnitudo terbesar 5.8 skala richter (SR) dan magnitudo terkecil 3,1 SR," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG

Rahmat Triyono dalam keterangan resmi yang diperoleh CNNIndonesia.com, Senin (15/7).

Sebelumnya, Kabupaten Halmahera Selatan diguncang gempa bumi tektonik berkekuatam 7,2 SR pada Minggu (14/7) pukul 16.10 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 0,56 LS dan 128,06 BT, tepatnya berada di kedalaman 10 km, berlokasi di darat pada jarak 63 km arah timur Kota Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Sorong-Bacan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah tersebut dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar.

Guncangan dilaporkan terasa di daerah Obi V MMI, Labuha III MMI, Manado, Ambon II-III MMI, Ternate, Namlea, Gorontalo, Raja Ampat, Sorong, dan Bolaang Mongondow II MMI.

Dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut terjadi di Kecamatan Gane Barat Utara, Timur Selatan, Gane Timur Tengah, Gane Dalam, Gane Barat Selatan, Gane Timur, Halmahera Selatan.

Terkait korban jiwa, dilaporkan ada satu orang meninggal dunia di Kelurahan Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan. Gempa bumi juga merobohkan sedikitnya 160 bangunan rumah.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

Masyarakat dapat memperoleh informasi melalui kanal resmi BMKG, seperti akun Instagram atau Twitter @infoBMKG), dan website (https://www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id)

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190715022402-20-412051/sebanyak-52-gempa-susulan-terjadi-di-halmahera-1-orang-tewas

Created by harrymahar - Updated - Priority: urgent

#35 Untitled project

Pemetaan 136 kabupaten /kota prioritas RPJMN tahun 2015-2019

Created by Asfirmanto Adi - Updated - Priority: low

#395 Pemetaan Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Salomekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

DESKRIPSI KEGIATAN

Bendungan disamping memiliki manfaat yang besar, juga menyimpan potensi bahaya yang besar pula, bendungan yang runtuh akan menimbulkan banjir bandang yang dahsyat sampai jauh ke daerah hilir yang akan mengakibatkan timbulnya banyak korban jiwa dan harta benda serta kerusakan lingkungan yang parah. Untuk itu perlu dilakuakan Rencana Tanggap Darurat untuk mencegah musibah tersebut Bendungan Salomekko merupakan bendungan Urugan Tanah dengan inti kedap yang merupakan bendung dalam wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, yang terletak di Desa Ulu Balang, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Bendungan Salomekko merupakan salah satu bendungan yang masuk ke dalam bendungan yang perlu dibuat dokumen RTD atau Rencana Tanggap Darurat oleh Kementerian PUPR Direktorat Sumber Daya Air. Mengingat pentingnya data-data pendukung terutama data keterpaparan untuk dapat melaksanakan analisis InaSAFE, diperlukan ketersediaan data yang lengkap di sekitar bendungan tersebut. Sehingga perlu adanya pemetaan untuk melengkapi data-data tersebut.

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: low

#145 Untitled project

Created by Lidya Riska - Updated - Priority: low

#112 Untitled project

Created by Lidya Riska - Updated - Priority: low

#340 Missing Maps: Kelurahan Tanahsareal - Kota Bogor

Epidemi dan pandemi berskala besar menimbulkan ancaman serius tidak hanya terhadap keamanan kesehatan global tetapi juga mengancam negara, masyarakat, dan individu dalam upaya untuk mencapai ketahanan. Epidemi dan pandemi mempengaruhi semua sektor, mempengaruhi layanan kesehatan rutin, ketahanan pangan dan ekonomi, perdagangan, pendidikan, ketertiban sipil, komunikasi, transportasi, dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Ancaman munculnya penyakit menular, termasuk yang berasal dari zoonosis, dan meningkatnya prevalensi penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan melalui upaya antimikroba dan vaksinasi, telah menyebabkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat global. Masyarakat memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Pemetaan ini merupakan bagian penting dari kegiatan Community Epidemic and Pandemic Preparedness Programme (CP3) yang ada di desa pilot program Palang Merah Indonesia (PMI). Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) dan Palang Merah Amerika (AMRC) mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program baru yang memiliki fokus pada advokasi data yang bersifat terbuka (open data), pemetaan berbasis masyarakat dan integrasi data ke dalam pembuatan keputusan berdasarkan data. Masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai lingkungan lokal dan adat istiadat setempat, memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, dan tanggapan dini terkait dengan ancaman ini.

Proyek Missing Maps bertujuan untuk memetakan komunitas/masyarakat yang rentan di dunia (yang disebabkan oleh krisis kemanusiaan: epidemi penyakit, konflik, bencana alam, kemiskinan dan krisis lingkungan). Missing Map dikembangkan pada proyek kesiapsiagaan bencana HOT untuk memfasilitasi pemetaan preemptive negara-negara prioritas agar meningkatkan response bencana yang lebih baik, kegiatan medis dan alokasi sumber daya sebelum krisis terjadi.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#42 Prioritas RPJMN DKI Jakarta

Pemetaan 136 kabupaten/kota prioritas RPJMN tahun 2015 -2019

Created by sesawiguna - Updated - Priority: low
1 2 3 .. 27 >

About the Tasking Manager

OSM Tasking Manager is a mapping tool designed and built for the Humanitarian OSM Team collaborative mapping. The purpose of the tool is to divide up a mapping job into smaller tasks that can be completed rapidly. It shows which areas need to be mapped and which areas need the mapping validated.
This approach facilitates the distribution of tasks to the various mappers in a context of emergency. It also permits to control the progress and the homogeinity of the work done (ie. Elements to cover, specific tags to use, etc.).


Questions About Tasks, Mapping or HOT?

If you have any questions about a project, a task or mapping in general please ask on our mailing list: HOT E-Mail List

Or visit us in our IRC Chat Channel, just select #hot from the pop down channel list:
OSM HOT IRC Channel #hot

General inquries and comments are welcomed at: info@hotosm.org