Projects


#393 Pemetaan Kabupaten Terdampak Banjir Sulawesi Tenggara

BNPB: 5.111 Korban Banjir Konawe Utara Masih Mengungsi Kompas.com - 10/06/2019

KENDARI, KOMPAS.com – Bupati Konawe Utara Ruksamin telah menetapkan status tanggap darurat banjir di wilayah itu selama 14 hari, terhitung 2 Juni 2019 hingga 16 Juni 2019. Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan antara lain pengoperasian pos komando penanganan darurat banjir yang berada di rumah jabatan bupati, evakuasi dan penyelamatan, penanganan warga terdampak, pendataan serta mengaktifkan jaringan komunikasi untuk penanganan darurat. Data BNPB hingga Senin (10/6/2019) menyebutkan, ada 38 desa, 3 kelurahan dan 6 kecamatan yang terendam banjir bandang.

Tak hanya itu, ada 185 rumah warga hanyut, 1.235 unit rumah terendam banjir dan 5.111 jiwa dari 1.420 kepala keluarga mengungsi akibat banjir di wilayah itu. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 hektare, lahan jagung 83,5 hektare dan lainnya 11 hektare, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 hektare.

Kepala pusat data, informasi dan humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kendala yang masih dihadapi petugas di lapangan adalah arus aliran air masih deras sehingga penggunaan sampan mesin tidak dapat menjangkau wilayah terisolir. Selain itu, minimnya peralatan untuk membantu evakuasi dan penyelamatan di lapangan. Saat ini, kata Sutopo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara mendata kerusakan fasilitas umum berupa 3 jembatan putus, 5 masjid dan dua puskesmas serta 3 puskesmas pembantu. Sedangkan fasilitas pendidikan yang terendam banjir ada 5 unit SD dan 3 bangunan SMP dan 3 pasar juga mengalami kondisi yang sama. "BPBD melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar-provinsi di Asera," kata Sutopo dalam rilis persnya.

Sutopo melanjutkan, banjir juga melanda Kabupaten Konawe. Banjir ini juga dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengakibatkan 36 jiwa mengungsi dan 240 terdampak. Bupati Konawe telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 5 Juni hingga 11 Juni 2019. BPBD Kabupaten Konawe telah melakukan upaya penanganan darurat dan pendataan lapangan. BPBD melaporkan 1 orang meninggal, yaitu bayi berusia 4 hari, pada kejadian ini. "BNPB masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut penyebab kematian bayi tersebut," terang Sutopo.

Ia menambahkan, untuk mempercepat pengiriman bantuan logistik, pihaknya telah mengirimkan bantuan logistik menggunakan pesawat cargo. BNPB mengirim bantuan langsung ke Kendari seberat 1.086 kg senilai Rp 218 juta. "BNPB juga mengaktivasi klaster logistik sehingga mengirimkan bantuan dari Kemensos dan PMI. Bantuan berupa family fit 200 kg, hygiene kit 200 kg, baby kit 200 kg, selimut 400 lembar, jas hujan 100 lembar, rompi 100 unit dan matras 100 lembar," ujar dia. Untuk distributsi logistik ke titik pengungsi dilakukan dengan bantuan satu helikopter milik BNPB.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: 5.111 Korban Banjir Konawe Utara Masih Mengungsi", https://regional.kompas.com/read/2019/06/10/20581171/bnpb-5111-korban-banjir-konawe-utara-masih-mengungsi. Penulis : Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati Editor : Robertus Belarminus

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: urgent

#385 Pemetaan Wilayah Terdampak Banjir Bandang Kecamatan Sentani, Jayapura, Papua

Korban banjir bandang yang menerjang 9 kelurahan di Kecamatan Sentani Kabupatrn Jayapura Provinsi Papua terus bertambah. Hingga Minggu (17/3/2019) pukul 08.30 WIB, tercatat dampak banjir bandang sebanyak 42 orang meninggal dunia, dan 21 orang luka-luka.

Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, eekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan dan belum semua daerah terdampak dijangkau oleh Tim SAR gabungan.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban masih dilakukan di daerah terdampak. Posko didirikan untuk memudahkan koordinasi. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: urgent

#387 Pemetaan Wilayah Terdampak Gempa Lombok, Maret 2019

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,4 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Minggu (17/3/2019) siang mengakibatkan dua orang meninggal dan ratusan rumah rusak.

Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa yang berpusat di darat pada 20 kilometer (km) arah utara Kota Selong Kabupaten Lombok Timur itu menyebabkan sejumlah rumah roboh.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Minggu (17/3/2019), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut dampak gempa juga menyebabkan dua orang tewas.

"Berdasarkan pendataan yang dilakukan BPBD Lombok Timur, dampak gempa telah menyebabkan dua orang meninggal dunia, 44 orang luka-luka, 32 unit rumah roboh dan 499 unit rumah rusak sedang dan rusak ringan," kata Sutopo.

Dua orang meninggal dunia adalah wisatawan asal Malaysia yang tertimpa material longsoran akibat adanya gempa di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara di bawah kaki Gunung Rinjani.

"Satu korban meninggal sudah diidentifikasi atas nama Tommy (14 tahun) warga Malaysia, sedangkan yang satunya belum dapat diindentifikasi. Korban luka-luka sebanyak 44 orang dimana 36 orang warga Indonesia dan delapan orang WNA Malaysia," kata dia.

Sementara itu sebanyak 36 wisatawan (22 wisatawan dari Malaysia dan 14 wisatawan nusantara) telah berhasil dievakuasi dari kawasan Air Terjun Tiu Kelep di Lombok Utara.

Sedangkan sekitar 50 orang lainnya juga berhasil dievakuasi dari Pos 2 ke Pos 3 di Gunung Rinjani dalam kondisi aman. Mereka adalah tim survei jalur pendakian Gunung Rinjani yang berasal dari TNGR, BPBD NTB, Geopark, Porter, PVMBG.

Saat ini kata Sutopo, penanganan darurat masih dilakukan. BPBD NTB berkoordinasi dengam berbagai pihak seperti TNI, Polri, BMKG, Basarnas, SKPD, Tagana, relawan dan lainnya.

Tim Reaksi Cepat BPBD NTB kata dia juga melakukan kaji cepat dan pendataan dampak gempa. BPBD NTB telah mengirimkan bantuan berupa makanan siap saji, terpal, lauk pauk, matras, mie instan dan telor. Pendataan terus dilakukan.

Sutopo menjelaskan gempa terjadi pada kedalaman 19 km pada pukul 14.07 WIB. Kemudian gempa susulan terjadi pada pukul 14.09 WIB dengan kekuatan 5,1 SR pada kedalaman 10 km.

"BMKG mencatat gempa bumi ini termasuk dalam klasifikasi gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh penyesaran turun (normal fault)," katanya.

https://tirto.id/bnpb-gempa-lombok-timur-mengakibatkan-531-rumah-rusak-djHC

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: high

#390 Pemetaan Desa Terdampak Bencana Kegagalan Bendungan Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah

Salah satu inovasi Pemerintah Indonesia melalui BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) bersama Pemerintah Australia dan Bank Dunia adalah software InaSAFE (Indonesia Scenario Assessment for Emergency) yang dapat digunakan untuk menganalisa dan mensimulasikan skenario kesiapsiagaan bencana. Untuk melakukan analisa tersebut diperlukan data teknis pendukung berbasis spasial. InaSAFE (http://inasafe.org) dimulai dengan tujuan untuk menyediakan alat bagi para manager penanggulangan bencana yang ingin mempelajari potensi dampak dari suatu bencana secara terbuka/open source (GPL license), yang artinya tidak ada biaya lisensi.

InaSAFE dijalankan melalui QGIS (aplikasi sistem informasi geografis desktop yang menyediakan tampilan, penyuntingan, dan analisis data) plugin yang memfasilitasi user untuk menyajikan informasi tentang jumlah aset prakiraan jumlah aset bersiko/terpapar atau terdampak oleh jenis ancaman tertentu, selain itu InaSAFE juga mampu menyajikan informasi prakiraan kebutuhan minimum terhadap populasi terdampak hasil analisis. Informasi yang dihasilkan kemudian ditampilkan dalam bentuk peta, tabel laporan dan daftar periksa tindakan. Oleh karena itu, InaSAFE diharapkan dapat dioptimalkan dan difungsikan dalam penyusunan RTD Bendungan khususnya di bendungan-bendungan DOISP2 yang sedang berjalan.

Bendungan Cengklik merupakan salah satu bendungan yang masuk ke dalam bendungan yang perlu dibuat dokumen RTD atau Rencana Tanggap Darurat oleh Kementerian PU. Mengingat pentingnya data-data pendukung terutama data keterpaparan (exposure) untuk dapat melaksanakan analisis InaSAFE, diperlukan ketersediaan data yang lengkap di sekitar bendungan tersebut. Sampai saat ini, jumlah bangunan yang terpetakan di dalam OpenStreetMap di daerah tersebut masih sedikit, sehingga perlu adanya pemetaan untuk melengkapi data-data tersebut.

Created by Adhitya Dido - Updated - Priority: medium

#376 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Lero - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#375 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Layana - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#374 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Langsat - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#373 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Tipo - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#372 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Petobo - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium

#371 Pemetaan Kamp Pengungsi PMI Loli Saluran - Sulawesi Tengah

Pada tanggal 28 September 2018, pukul 17:02:44 WIB telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4 SR pada koordinat 0.22 LS dan 119.89 BT, dengan kedalaman 11 km, dan berjarak 26 km dari Utara Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di Pantai Talise, Kota Palu, dan Pantai Donggala. Gempa bumi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan 680 orang hilang (BNPB, 11 Oktober 2018).

Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengumpulan data lapang dan melakukan pemotretan udara dengan drone (UAV) untuk beberapa wilayah yang terdampak tsunami. Pemetaan ini bertujuan untuk membantu PMI dan stakeholder lainnya dalam mengelola kamp pengungsi bagi penyintas gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Created by Dedijunadi - Updated - Priority: medium
1 2 3 .. 26 >

About the Tasking Manager

OSM Tasking Manager is a mapping tool designed and built for the Humanitarian OSM Team collaborative mapping. The purpose of the tool is to divide up a mapping job into smaller tasks that can be completed rapidly. It shows which areas need to be mapped and which areas need the mapping validated.
This approach facilitates the distribution of tasks to the various mappers in a context of emergency. It also permits to control the progress and the homogeinity of the work done (ie. Elements to cover, specific tags to use, etc.).


Questions About Tasks, Mapping or HOT?

If you have any questions about a project, a task or mapping in general please ask on our mailing list: HOT E-Mail List

Or visit us in our IRC Chat Channel, just select #hot from the pop down channel list:
OSM HOT IRC Channel #hot

General inquries and comments are welcomed at: info@hotosm.org